2 min read

Pendalaman Alkitab: Percayalah kepada Hikmat, Jangan kepada Diri Sendiri

Pendalaman Alkitab: Percayalah kepada Hikmat, Jangan kepada Diri Sendiri

Oleh Admin — 09 Feb 2026

Di dunia yang sering mendorong kita untuk mengikuti hati kita, hikmat dari Kitab Amsal mengingatkan kita untuk berhati-hati dalam mengambil keputusan. Amsal 28:26 berkata, "Siapa percaya kepada hatinya sendiri adalah orang bebal, tetapi siapa berlaku dengan bijak akan selamat." Ayat ini menjadi pengingat yang kuat akan pentingnya mencari hikmat di luar pengertian kita sendiri.

Hati kita bisa berubah-ubah; hati dapat membawa kita pada keinginan yang sementara dan keputusan yang tidak bijaksana. Ketika kita hanya mengandalkan perasaan atau keinginan kita sendiri, kita berisiko membuat pilihan yang tidak sejalan dengan kehendak Allah. Hal ini sangat relevan di tengah lingkungan yang serba cepat dan penuh emosi seperti saat ini. Budaya kita sering mengagungkan individualisme dan kemandirian, tetapi Firman Tuhan memanggil kita kepada standar yang berbeda. Percaya pada hati sendiri dapat membawa kepada kebodohan, tetapi berjalan dalam hikmat membawa kepada keselamatan.

Kunci untuk berjalan dengan bijak adalah dengan mencari pimpinan Allah melalui doa, mempelajari Firman-Nya, dan mengelilingi diri dengan nasihat yang bijaksana. Dalam Yakobus 1:5, kita didorong: "Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah—yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan tidak membangkit-bangkit—maka hal itu akan diberikan kepadanya." Allah murah hati dengan hikmat; Dia rindu menuntun kita di jalan yang benar.

Saat menghadapi keputusan, besar maupun kecil, ambillah waktu untuk berhenti dan merenung. Daripada terburu-buru mengikuti apa yang terasa benar saat itu, carilah perspektif Allah. Ini bisa dilakukan dengan berdoa meminta kejelasan, membaca Kitab Suci untuk petunjuk, atau meminta nasihat dari mentor yang dapat dipercaya dalam hidupmu.

Pikirkan kisah Salomo, yang terkenal meminta hikmat kepada Allah, bukan kekayaan atau kekuasaan. Pilihannya untuk mengutamakan hikmat di atas keuntungan pribadi menghasilkan masa pemerintahan yang penuh keadilan dan kemakmuran. Hidup Salomo menjadi contoh kebenaran yang terdapat dalam Amsal 28:26: berjalan dengan bijak membawa kepada keselamatan, bukan hanya bagi diri sendiri tetapi juga bagi orang lain.

Secara praktis, ini berarti menilai keputusan kita melalui kacamata Firman Tuhan. Apakah pilihan saya mencerminkan karakter Allah? Apakah saya lebih mengutamakan keinginan sendiri daripada kehendak-Nya? Ketika kita memilih untuk berjalan dengan bijak, kita menempatkan diri untuk mengalami keselamatan dari Allah dalam hidup kita.

Hari ini, mari kita berkomitmen untuk percaya kepada Tuhan dan mencari hikmat-Nya di atas hati kita sendiri. Kiranya kita sadar akan kebodohan yang datang dari mengandalkan diri sendiri dan sebaliknya merangkul tuntunan yang memberi hidup dari Allah. Ingatlah, hikmat sejati membawa kepada keselamatan. Percayalah kepada-Nya, dan engkau akan menemukan jalan yang menuju kepada hidup dan damai sejahtera.