Pendalaman Alkitab: Menemukan Ketenangan di Dunia yang Kacau
Oleh Admin — 09 Jan 2026
Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, kita sering merasa kewalahan. Kita bergegas dari satu tugas ke tugas lain, pikiran kita dipenuhi dengan berbagai pemikiran dan kekhawatiran. Namun, di tengah segala kekacauan ini, Allah mengundang kita untuk berhenti sejenak dan menemukan damai di hadirat-Nya. Pemazmur mengingatkan kita dalam Mazmur 46:11, “Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah!” Perintah yang sederhana namun mendalam ini berbicara banyak tentang kebutuhan kita akan ketenangan dalam kehidupan sehari-hari.
Untuk “diam” berarti menenangkan pikiran dan hati kita, menyingkirkan segala gangguan, dan memusatkan perhatian pada kebenaran tentang siapa Allah itu. Di dunia yang terus-menerus menuntut perhatian kita, meluangkan waktu untuk diam bisa menjadi tindakan yang revolusioner. Dalam keheningan inilah kita benar-benar dapat mengenal Allah—bukan hanya tahu tentang Dia, tetapi mengalami hadirat dan kasih-Nya secara pribadi.
Saat kita diam, kita memberi ruang bagi Allah untuk berbicara kepada kita. Seringkali, kita datang kepada Allah dalam doa dan saat teduh dengan daftar permintaan yang panjang, tetapi persekutuan sejati dengan Allah membutuhkan kita untuk mendengarkan. Dalam keheningan, kita dapat mendengar bisikan-Nya yang penuh petunjuk, penghiburan, dan harapan. Dalam saat-saat tenang itulah kita dapat merenungkan karakter-Nya—kesetiaan-Nya, kasih setia-Nya, dan kedaulatan-Nya atas hidup kita.
Di masyarakat yang serba cepat saat ini, kebisingan dapat menenggelamkan suara Allah. Kita bisa merasa kewalahan oleh tekanan pekerjaan, hubungan, dan arus berita serta media sosial yang tiada henti. Inilah sebabnya mengapa panggilan untuk diam sangat penting. Ini adalah undangan untuk menjauh sejenak dari kebisingan, menarik napas dalam-dalam, dan mengakui bahwa Allah yang memegang kendali.
Pertimbangkan untuk meluangkan beberapa saat setiap hari untuk berlatih diam. Carilah tempat yang tenang, pejamkan mata, dan tarik napas dalam-dalam. Lepaskan segala kekhawatiran dan gangguan. Renungkanlah kebenaran bahwa Allah beserta denganmu, bahwa Ia adalah tempat perlindungan dan kekuatanmu, penolong yang sangat terbukti dalam kesesakan (Mazmur 46:2).
Saat kamu membiasakan diri dengan praktik ini, kamu akan menemukan bahwa diam bukan sekadar soal keheningan fisik; ini adalah sikap hati yang percaya dan berserah. Ketika kita mengakui kedaulatan Allah, kita mulai melihat tantangan kita dalam terang kebesaran-Nya. Ketakutan kita kehilangan cengkeramannya, dan kecemasan kita berkurang saat kita mengingat bahwa Dia adalah Allah di atas segala sesuatu.
Biarlah ayat ini menuntunmu sepanjang hari. Setiap kali kamu merasa kewalahan, berhentilah sejenak dan ingatlah untuk diam. Luangkan waktu untuk merenungkan kebaikan dan kesetiaan Allah. Dengan melakukan hal itu, kamu akan menemukan damai dan keteguhan hati, mengetahui bahwa Sang Pencipta alam semesta terlibat secara pribadi dalam hidupmu. Rangkullah keheningan itu, dan biarkan itu mengubahkan hati dan pikiranmu.