2 min read

Pendalaman Alkitab: Kuasa Perkataan

Pendalaman Alkitab: Kuasa Perkataan

Oleh Admin — 21 Jan 2026

Lidah orang bijak mengeluarkan pengetahuan, tetapi mulut orang bebal mencurahkan kebodohan. (Amsal 15:2)

Di dunia yang serba cepat dan dipenuhi informasi ini, kata-kata yang kita pilih untuk diucapkan memiliki bobot yang sangat besar. Amsal 15:2 memberikan kita wawasan yang mendalam tentang kuasa perkataan kita. Ayat ini membandingkan orang bijak dan orang bebal, mengajak kita untuk merenungkan bagaimana kita berkomunikasi dan dampak dari kata-kata kita terhadap diri sendiri maupun orang lain.

Firman Tuhan mengatakan bahwa lidah orang bijak mengeluarkan pengetahuan. Mengeluarkan berarti memuji, mendukung, atau menyatakan persetujuan. Orang bijak menggunakan kata-katanya bukan hanya untuk berbicara, tetapi untuk membangun, mendidik, dan menginspirasi. Saat kita terlibat dalam percakapan, apakah kita berusaha membagikan pengetahuan dan hikmat? Atau justru kita ikut menambah kebisingan kebodohan yang sering memenuhi diskusi kita?

Dalam kehidupan modern, kita sering dibombardir dengan opini, gosip, dan setengah kebenaran. Media sosial memperbesar hal ini, memungkinkan pertukaran yang cepat namun kadang tanpa kedalaman dan pengertian. Namun, sebagai pengikut Kristus, kita dipanggil untuk hidup dengan standar yang lebih tinggi. Kita harus menjadi suara hikmat dan pengetahuan, mengeluarkan kebenaran, dan membawa kehidupan dalam setiap situasi.

Pikirkanlah dampak perkataanmu dalam interaksi sehari-hari. Ketika berbicara dengan teman yang sedang menghadapi tantangan, apakah kamu memberikan dorongan dan wawasan yang berakar pada hikmat Alkitab? Ketika terjadi diskusi di tempat kerja, apakah kamu menjadi sumber nasihat yang membangun atau hanya menambah kekacauan? Hikmat yang kita bagikan dapat menjadi mercusuar harapan dan sumber kekuatan bagi orang di sekitar kita.

Lebih dari itu, ayat ini mendorong kita untuk mencari pengetahuan bagi diri sendiri. Untuk dapat mengeluarkan pengetahuan, kita harus memilikinya terlebih dahulu. Ini berarti kita harus berkomitmen untuk belajar — melalui doa, pembacaan Firman, dan usaha memahami dalam segala aspek kehidupan kita. Saat kita bertumbuh dalam hikmat, kata-kata kita pun akan mencerminkan pertumbuhan itu.

Secara praktis, marilah kita berusaha untuk sengaja dalam berbicara hari ini. Sebelum berbicara, berhentilah sejenak dan pikirkan: Apakah perkataanku membangun? Apakah mencerminkan pengetahuan dan pengertian? Apakah aku berkontribusi pada percakapan yang bijak?

Saat kamu menjalani harimu, ingatlah bahwa lidahmu memiliki kuasa untuk membentuk kenyataan. Pilihlah untuk mengeluarkan pengetahuan, berkata-kata yang membawa kehidupan, dan menjadi wadah hikmat. Kiranya perkataanmu membawa orang lain semakin dekat pada kebenaran, menguatkan mereka dalam perjalanan hidup, dan mencerminkan kasih Kristus dalam segala yang kamu ucapkan.

Rangkul tanggung jawab atas lidahmu, sebab itu adalah alat yang kuat di tangan orang bijak.