Pendalaman Alkitab: Diamlah dan Ketahuilah
Oleh Admin — 07 Des 2025
Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, di mana gangguan begitu banyak dan daftar tugas kita seolah tak ada habisnya, panggilan untuk diam menjadi semakin relevan. Mazmur 46:10 mengingatkan kita, "Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah!" Ayat ini mengundang kita masuk ke dalam ruang kudus keheningan dan kesadaran, mendorong kita untuk berhenti sejenak di tengah kekacauan dan mengakui kehadiran Sang Mahakuasa.
Diam bukan sekadar tentang keheningan fisik; itu adalah sikap hati. Ini menuntut kita untuk meletakkan kekhawatiran, ketakutan, bahkan ambisi kita, agar ada ruang bagi suara Allah untuk terdengar. Dalam dunia yang serba cepat, di mana kita sering mengukur keberhasilan dari produktivitas, undangan untuk diam ini bisa terasa bertentangan dengan budaya. Namun, justru dalam keheningan inilah kita benar-benar dapat mengenal Allah.
Mengenal Allah lebih dari sekadar pengakuan intelektual; itu adalah hubungan yang intim, dibangun atas dasar kepercayaan dan pengalaman. Ketika kita meluangkan waktu untuk diam, kita membuka diri untuk memahami sifat Allah—kasih-Nya, kesetiaan-Nya, dan kedaulatan-Nya. Dalam saat-saat hening, kita bisa merenungkan janji-janji-Nya dan mengingat begitu banyak cara Dia telah menuntun kita melewati badai kehidupan.
Pikirkanlah teladan Yesus, yang sering menarik diri dari keramaian untuk berdoa dan mencari kesendirian. Dalam Markus 1:35, kita membaca, "Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana." Jika Anak Allah saja merasa perlu untuk mencari keheningan, apalagi kita?
Dalam keheningan kita, kita juga dapat menemukan kejelasan. Seringkali, kita kewalahan oleh hiruk-pikuk keadaan, yang dapat mengaburkan penilaian dan membuat kita merasa tersesat. Namun, ketika kita berhenti sejenak dan mengarahkan hati kepada Allah, kita bisa mendapatkan perspektif. Masalah yang dulu tampak tak teratasi dapat dilihat melalui kacamata iman, dan beban kita terasa lebih ringan ketika kita meletakkannya di kaki-Nya.
Selain itu, diam memungkinkan kita untuk mendengarkan. Dalam doa, kita sering lebih banyak berbicara, menyampaikan permohonan dan kekhawatiran kita. Tetapi seberapa sering kita duduk dalam keheningan, membiarkan Allah berbicara kepada kita? Dalam saat-saat hening ini, kita mungkin menerima petunjuk, penghiburan, atau pengingat akan kehadiran-Nya.
Saat kita menjalani hari ini, marilah kita memperhatikan panggilan untuk diam. Sisihkan waktu, entah itu di pagi hari, saat istirahat makan siang, atau sebelum tidur, untuk berhenti sejenak dan mengakui Allah. Dalam keheningan itu, Anda akan menemukan damai, kekuatan, dan keyakinan bahwa Dia sungguh berdaulat.
Marilah kita menghargai janji bahwa ketika kita diam, kita tidak sekadar menunggu dalam keheningan; kita sedang masuk ke dalam pemahaman yang lebih dalam tentang siapa Allah itu. Rangkullah kebenaran ini hari ini, dan biarkan itu mengubah hati dan pikiran Anda.