Pendalaman Alkitab: Dasar Hikmat Sejati
Oleh Admin — 19 Feb 2026
Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian. (Amsal 9:10)
Di dunia yang sering kali mengutamakan pengetahuan dan intelektualitas, konsep “takut” mungkin terasa bertentangan. Namun, takut akan TUHAN bukanlah tentang ketakutan terhadap Allah; melainkan rasa hormat dan kagum yang mendalam atas kekudusan, kuasa, dan otoritas-Nya. Takut ini adalah dasar—ini adalah titik awal dari mana hikmat sejati mengalir.
Hikmat bukan sekadar penumpukan fakta atau pengembangan keterampilan. Hikmat adalah kemampuan untuk membedakan apa yang benar dan baik di mata Allah. Ketika kita menyadari kedaulatan Allah atas hidup kita, kita mulai melihat keadaan, keputusan, dan hubungan kita melalui lensa ilahi. Perspektif ini memungkinkan kita menavigasi kompleksitas hidup dengan kejelasan dan tujuan.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita dibombardir dengan berbagai suara yang menawarkan nasihat bertentangan tentang apa artinya hidup dengan bijaksana. Influencer media sosial, budaya populer, bahkan teman-teman yang bermaksud baik dapat menyesatkan kita jika kita tidak berakar pada takut akan TUHAN. Karena itu, kita harus secara teratur memeriksa hati kita. Apakah nilai-nilai kita selaras dengan Firman Allah? Apakah kita mencari petunjuk-Nya melalui doa dan firman sebelum mengambil keputusan?
Takut akan TUHAN mendorong kita untuk mencari kehendak-Nya di atas kehendak kita sendiri. Takut ini menumbuhkan kerendahan hati, mengingatkan kita bahwa kita bukanlah otoritas tertinggi dalam hidup kita. Sebaliknya, kita mengakui bahwa jalan-jalan Allah lebih tinggi dari jalan-jalan kita (Yesaya 55:9). Pengakuan ini membuka pintu hikmat, saat kita tidak bersandar pada pengertian sendiri, tetapi dalam segala hal mengakui Dia (Amsal 3:5-6).
Renungkan kehidupan Salomo, yang meminta hikmat kepada Allah saat memimpin bangsa Israel. Permintaannya lahir dari rasa hormat yang mendalam kepada Allah dan kesadaran akan keterbatasannya sendiri. Allah memberikan hikmat kepada Salomo melebihi ukuran, dan pemerintahannya menjadi bukti kuasa bimbingan ilahi. Ketika kita takut akan TUHAN, kita menempatkan diri kita untuk menerima berkat serupa—wawasan, pengertian, dan kemampuan untuk membuat keputusan yang memuliakan Allah.
Saat Anda menjalani hari Anda, luangkan waktu untuk merenungkan area hidup Anda di mana Anda mungkin perlu tunduk pada hikmat Allah. Adakah keputusan yang sedang Anda hadapi? Hubungan yang membutuhkan bimbingan-Nya? Luangkan waktu dalam doa, undang Allah ke dalam situasi-situasi tersebut, dan mintalah hikmat yang berasal dari takut akan Dia.
Ingatlah, takut akan TUHAN bukanlah pengalaman satu kali; ini adalah latihan harian. Saat kita menumbuhkan rasa hormat ini, kita bertumbuh dalam hikmat, menjadi bejana terang-Nya di dunia yang sangat membutuhkannya. Peluklah takut akan TUHAN hari ini, dan lihatlah bagaimana hal itu mengubahkan hati dan pikiran Anda.